Lewati navigasi

Penguasaan materi ini diperlukan bagi guru pendidikan jasmani, pelatih olahraga dan orang-orang yang terlibat dalam bidang pendidikan jasmani dan keolahragaan mengingat:

  1. Tidak semua tes keterampilan olahraga yang ada, cocok diterapkan dalam semua situasi dan kondisi.

  2. Untuk cabang olahraga tertentu, dengan tingkat tertentu sering kali dijumpai alat tes yang belum standar.

  3. Perlu adanya pengembangan dari alat tes keterampilan olahraga yang telah ada sebagai tes pembanding.

  4. Tes keterampilan olahraga yang ada perlu diuji kembali pada waktu-waktu tertentu, untuk melihat apakah tes tersebut masih dapat dipertahankan atau tidak.

  5. Perlu dilakukan validasi terhadap tes keterampilan yang disusun oleh orang lain, yang karakteristik sampelnya berbeda dengan orang Indonesia.

1.2. Sifat, Kriteria dan Pengembangan Tes Keterampilan Olahraga.

(1) Sifat Tes Keterampilan Olahraga.

Montoye (1978) mengemukakan tes keterampilan olahraga memiliki sifat-sifat sebagai berikut:

  1. Harus dapat membedakan tingkat kemampuan dari orang coba.
  2. Ditekankan pada kemampuan untuk menampilkan dasar keterampilan olahraga.
  3. Memerlukan tingkat kekuatan dan daya tahan, sehingga butir-butir tes yang ada harus memperlihatkan elemen-elemen yang penting.

(2) Kriteria Tes keterampilan olahraga yang baik.

Kriteria tes yang baik menurut Montoye (1978) adalah sebagai berikut:

  1. Hanya melibatkan satu orang pelaku.

  2. Teknik pengukuran dapat dilakukan dengan mudah dan teliti (akurat)

  3. Variabel-variabel yang tidak ada hubungannya dengan tes dibatasi seminim mungkin.

  4. Tes keterampilan harus disusun secara sederhana.

  5. Bentuk tes keterampilan dan teknik yang dilakukan harus mendekati atau sama dengan situasi permainan yang sesungguhnya.
  6. Tes yang diberikan harus sesuai dengan tingkat perbedaan.

  7. Tes yang akan digunakan harus sesuai dengan tingkatan yang ada.

  8. Tes dilakukan secara menyeluruh dan teliti sesuai dengan instruksi.

  9. Tes yang digunakan harus memenuhi prinsip-prinsip validitas, reliabilitas, dan obyektifitas.

Scott (1959) menyatakan kriteria tes keterampilan olahraga meliputi:

a) Tes harus mengukur kemampuan yang penting.

b) Tes harus menyerupai situasi permainan yang sesungguhnya.

c) Tes harus mendorong bentuk permainan yang baik.

d) Tes hanya melibatkan satu orang saja.

e) Tes yang dilakukan harus menarik dan berarti.

f) Tes harus dapat membedakana tingkat kemampuan.

g) Tes harus dapat menunjang penskoran yang baik.

h) Tes harus dapat dinilai sebagian dengan menggunakan statistik.

i) Tes yang akan digunakan harus memberikan cukup percobaan.

j) Tes harus memberikan makna untuk interpretasi penampilan.

(3) Rancangan Tes Keterampilan Olahraga.

Keterampilan dapat diukur melalui beberapa cara, seperti pengukuran waktu, jarak, ketepatan, tenaga dan sebagainya.

a) Ukuran Waktu.

Apabila ukuran waktu digunakan untuk mengukur keterampilan, bukanlah proses yang diukur melainkan produk atau hasil dari sebuah pelaksanaan kegiatan yang diukur.

b) Ukuran Jarak.

Ukuran jarak sering digunakan untuk mengukur lompatan atau lemparan. Ukuran jarak sangat memadai untuk mengukur keterampilan dalam melompat.

c) Mengukur Sejumlah Pelaksanaan dalam Satuan Waktu Tertentu.

Bentuk lain dari tes keterampilan motorik adalah mengukur sebuah pelaksanaan dari satu keterampilan tertentu yang dapat dilakukan dalam satu periode waktu tertentu pula.

d) Ukuran Vilositas.

Ukuran ini mempertimbangkan komponen ketepatan, sudut proyektil, dan jarak dari keterampilan proyektil. Jadi aspek tenaga dari keterampilan diukur dengan tingkat ketelitian yang sangat tinggi. Vilositas ditentukan dengan membagi jarak dengan waktu, dan dicatat dalam satuan meter perdetik.

e) Mengukur Ketepatan.

Ketepatan adalah satu komponen keterampilan yang sering diukur, dan secara umum diukur dengan menggunakan sasaran, yang memiliki rentangan dari tingkat yang paling sederhana sampai pada tingkat yang kompleks.

f) Mengukur Gaya.

Guru pendidikan jasmani dalam mengajar seringkali menaruh perhatian pada pengukuran gaya. Pengukuran gaya sering dilaksanakan dengan cara menggunakan daftar cek atau skala rating. (Abdoellah, Arma, 1988). Pengukuran gaya berorientasi pada proses bukan produk.

(4) Pengembangan Tes Keterampilan Olahraga.

a) Tes Satu Keterampilan.

Tes ini dibuat untuk mengukur satu keterampilan khusus, seperti menendang bola ke gawang, lemparan bola dalam permainan softball atau service pendek dalam permainan bulutangkis. Tipe tes ini tepat digunakan apabila siswa sedang berlatih melakukan satu keterampilan khusus dalam satu unit pelajaran.

b) Tes Gabungan Beberapa Keterampilan (Battery Tes).

Tes keterampilan gabungan dikembangkan untuk mengukur kemampuan bermain dalam suatu rangkaian kegiatan. Pembuatan tes gabungan (battery).

c) Pengembangan Tes Kecakapan Bermain.

Salah satu cara yang dapat dilakukan dalam mengembangkan tes kecakapan bermain adalah membandingkan tes yang disusun dengan kriterion yang telah ada. Kriterion dalam tes kecakapan bermain dapat berupa tes standar, ranking dalam sebuah pertanding, dan ranking hasil observasi yang dilakukan oleh pengamat yang ahli. Ranking dalam pertandingan mungkin akan lebih lemah apabila digunakan untuk mengukur kemampuan bermain, karena akan melibatkan informasi yang kurang spesifik tentang kekuatan dan kelemahan yang dimiliki siswa.

1.3 Langkah-langkah Pembuatan Tes Keterampilan Olahraga.

(1) Tentukan Tujuan Dibuatnya suatu Tes Menentukan status siswa, Mengelompokkan siswa, Menyeleksi siswa, dsb.

(2) Identifikasi Kemampuan yang Akan diukur.

Karakteristik seperti umur, tingkat kelas, kondisi fisik saat tes harus pula dipertimbangkan apabila meng-identifikasi keterampilan yang akan dites. Butir-butir tes yang digunakan harus relevan dengan tujuan dari pelaksanaan suatu tes.

(3) Memilih butir tes gerak.

Untuk memperoleh kesahihan isi, butir tes harus mencerminkan keterampilan yang penting untuk cabang olahraga tertentu. Mula-mula harus diidentifikasi komponen keterampilan yang penting. Hal ini dapat dilakukan dengan meminta pertimbangan kepada pakar untuk cabang olahraga tertentu untuk memperoleh komponen-komponen penting cabang olahraga tertentu. Langkah lain yang dapat dilakukan adalah mengadakan observasi sendiri ke lapangan dengan melihat suatu pertandingan, observasi tersebut dimaksudkan untuk melihat keterampilan apa saja yang sering dilakukan oleh seorang pemain dalam suatu pertandingan, keterampilan dasar tertentu yang sering ditampilkan seorang pemain di lapangan merupakan komponen penting yang harus dimasukkan sebagai komponen pen-ting dalam suatu tes.

(4) Fasilitas dan Peralatan.

Guru harus menentukan secara khusus fasilitas dan peralatan yang dibutuhkan untuk pelaksanaan butir tes. Bagaimanapun lapangan keras, lapangan rumput maupun ko-lam renang akan diukur, ditandai dan ditentukan dimensinya secara khusus. Tempat yang akan digunakan tes harus aman, bebas dari halangan yang dapat mengganggu pelaksanaan tes. Semua peralatan (misalnya stop watch, timbang-an, meteran dll.) harus ditera terlebih dahulu, dan semua petugas tes harus dilatih terlebih dahulu dengan baik dalam menggunakan fasilitas dan peralatan untuk meniadakan kesalahan pengukuran.

(5) Laksanakan Satu Studi Percobaan dan Revisi Butir Tes.

Untuk dapat mengidentifikasi masalah dalam pelaksanaan guna meyakinkan apakah sudah baik ditinjau dari segi ukuran, tanda-tanda, alokasi waktu dan pemberian skor butir tes, perlu dilakukan uji coba pada kelompok kecil pelaku. Di samping itu harus dapat menentukan apakah definisi operasional dari komponen keterampilan itu relevan dengan tingkat kemampuan yang akan dinilai, serta metode pemberian skor dapat diteliti dengan cermat.

(6) Pilih Subyek yang Akan digunakan.

Untuk memperoleh informasi lebih banyak tentang kesahihan dan keterandalan mengenai kelompok yang mewakili kelas, tes harus dilaksanakan dengan hati-hati, serta mengikuti petunjuk pelaksanaan tes dan pemberian skor. Subyek yang digunakan dalam pembuatan rangkaian tes harus merupakan wakil dari kelompok untuk siapa tes tersebut dibuat.

(7) Tentukan Kesahihan Butir-butir Tes.

Apakah butir tes yang dipakai betul-betul mengukur apa yang seharusnya diukur. Satu alat pengukur dikatakan sahih jika benar-benar cocok untuk mengukur apa yang seharusnya diukur.

(8) Tentukan Keterandalan Butir Tes.

Tingkat ketelitiannya untuk mengukur apa yang akan diukur. Suatu alat tes dikatkan terandal jika ia menghasilkan skor atau hasil pengukuran yang benar-benar dapat dipercaya.

(9) Menentukan Norma yang Dipakai.

Terdapat dua norma yang dapat dipakai dalam memberikan penilaian terhadap pelaksanaan suatu tes, yang pertama adalah Penilaian Acuan Norma (PAN) dan kedua adalah Penilaian Acuan Patokan (PAP). Tes yang dilaksanakan dengan standar lokal, sebaiknya dikembangkan untuk dua macam penilaian di depan, ini dapat dilakukan dengan cara memberikan tes kepada kelompok peserta. Jadi peserta dapat membandingkan skor tes mereka dengan skor yang diperoleh oleh semua peserta yang ada kelompok atau kelas tersebut.

(10) Membuat Panduan Tes.

Kegunaan dari sebuah panduan tes adalah untuk memperkenalkan secara lengkap kepada pemakai tentang tes yang akan dijalani. Banyak contoh isi dari panduan tes akan menjadi dasar dalam mengambil keputusan apakah tes tersebut akan dipakai atau menggunakan tes lain yang lebih tepat. Contoh; Langkah-langkah menyusun tes keterampilan gerak (Bolavoli).

1. Tujuan:

Ingin menyusun tes keterampilan bermain bola voli bagi siswa SLTA putra.

2. Identifikasi Kemampuan yang Akan Diukur.

Kecakapan bermain Bola Voli Rating pentingnya

a) Menerima Bola

(1) Dari service 3

(2) Dari operan (pass) teman sendiri 1

(3) Dari lewat net (lawan) 2

(4) Dari set-up teman 2

b) Memainkan Bola

(1) Service 3

(2) Operan ke teman 3

(3) Memvoli bola melewati net 2

(4) Smash 1

(5) Block 1

(6) Set-up 3

c) Gerakan kaki:

(1) Segera berada di bawah bola 2

(2) Loncat 2

(3) Segera mengambil posisi setelah service 1

(4) Mengisi tempat yang ditinggalkan teman 2

3. Memilih Butir Gerak:

a) Service

b) Passing

4. Fasilitas dan Peralatan:

a) Lapangan bola voli

b) Bola voli

c) Jaring

d) Tali pembatas

e) Kapur

f) Meteran

5. Laksanakan Percobaan dan Revisi Butir Tes.

  1. Tes service dan passing dilakukan pada siswa SLTA putra di wilayah tertentu yang mewakili populasi, sebagai subjek uji coba.

  2. Hasil uji coba dianalisis, dan tes yang tidak mewakili keterampilan bermain bola voli tidak akan dipakai.

6. Pilih Subjek yang Digunakan.

Subjek yang digunakan adalah siswa SLTA putra.

7. Tentukan Kesahihan Butir Tes.

  1. Dapat menggunakan juri, dengan cara mengkorelasikan hasil tes yang dicapai dengan hasil pengamatan yang dilakukan oleh dua orang juri atau lebih.

  2. Dapat dilakukan dengan cara mengkorelasikan hasil tes buatan guru yang diperoleh, dengan hasil tes yang menggunakan tes terstandar.

8. Tentukan Keterandalan Butir Tes.

  1. Dengan cara tes ulang. Lakukan tes yang sama se-banyak dua kali ulangan, hasil tes pertama dan kedua dikorelasikan, hasil korelasi yang diperoleh merupakan tingkat keterandalan yang dicapai tes tersebut.

  2. Dengan cara belah dua (ganjil-genap). Kelompokkan hasil yang diperoleh antara tes yang dilakukan dengan nomor ganjil dan genap, korelasikan hasil yang dicapai berdasarkan pengelompokan yang dilakukan, hasil korelasi yang dicapai merupakan tingkat keterandalan dari tes yang disusun guru.

9. Membuat Norma.

  1. Apabila penilaian acuan norma (PAN) yang digunakan sebagai acuan, maka prinsip dasar yang digunakan adalah kurve normal, pembagian didasarkan pada simpangan baku.

  2. Apabila penilaian acuan patokan (PAP) yang digunakan sebagai acuan, maka sejak awal harus sudah ditentukan dulu kriteria yang diinginkan.

10. Buat Panduan Tes.

a) Panduan untuk tes service.

b) Panduan untuk tes passing.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: